INILAH.COM, Mukakuning – Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) akan menyelenggarakan Konser Nasyid Kemanusiaan pada Minggu (1/1) mulai pukul 08.00 WIB sampai 12.00 WIB di Sport Hall Temenggung Abdul Jamal, Mukakuning.
Konser itu merupakan bentuk kepedulian masyarakat Batam terhadap penderitaan bangsa Palestina.
“Kami mengajak masyarakat Batam untuk menghadiri konser kemanusiaan tersebut,” kata Fajri Hidayat, Ketua Panitia Pelaksana dalam rilisnya yang diterima Haluan Kepri, Kamis (29/12).
[click to continue…]
Penampilan grup nasyid Justice Voice
Masalah Al Aqsha dan Palestina, bukan hanya permasalahan bangsa-bangsa arab saja. Tetapi adalah masalah bersama umat muslim seluruh dunia. Oleh karena itu, sebagai bentuk kepedulian atas penderitaan rakyat Palestina yang terjajah oleh Israel, KNRP, Komite Nasional untuk Rakyat Palestina mengadakan aksi munasharah ( penggalangan dana ). Acara ini dikemas dalam bentuk konser kemanusiaan yang berlangsung di 7 ( tujuh ) kota. Diawali dari Bandung, Karawang, Jakarta, Bekasi, Semarang, Solo, dan Jogjakarta. Untuk Di Kota Solo, acara dilangsungkan di Lapangan Kota Barat pada tanggal 11 desember 2011. Dengan menampilkan munsyid-munsyid papan atas tanah air seperti Izzatul Islam, Justice Voice, dan Shoutul Harokah serta munsyid-munsyid asli Surakarta Zukhruf dan AlKaline serta pembacaan puisi oleh Indrawan Yepe.
Dalam rilis yang diterima oleh ANN, Nafi’ A Muhammad selaku ketua panitia penyelenggara konser kemanusiaan mengatakan, “ Target Peserta yang akan hadir nantinya 12.000 massa se Solo Raya, sedangkan penggalangan dana yang ditargetkan adalah 150 juta rupiah. Target ini merupakan bagian dari kepedulian masayarakat solo untuk membantu penderitaan rakyat palestina yang saat ini masih dalam kondisi yang memprihatinkan karena penjajahan Israel. Perbaikan sarana kesehatan, pendidikan dan insfrastruktur lain serta pemenuhan kebutuhan dasar hidup harus dilakukan untuk masa depan rakyat Palestina” [click to continue…]
Asslm wr wb ikhwah ANN skalian,,mohon do’a dn ta’wun sihi (dukungan dana) bagi orang tua kita, pecinta, pendiri ANN skaligus pembina nasyid, Bpk Saprihanto yg saat ini sedang terbaring koma (sdh 3hr) di RSCM.
Berikut Profile Pak Sapri
- Pada tahun 2004 beliau memprakarsai “Festival Nasyid Indonesia” di Indosiar
- Tahun 2005, “Festival Nasyid Indonesia” di TVRI
- Pencetus “Festival Nasyid Pemuda Indonesia” kerjasama ANN dengan Menegpora, pada tahun 2006 sd 2010 (2011 tidak diadakan karena faktor birokrasi, insya Allah akan kembali diadakan tahun 2012 ini)
- Pendiri ANN Jakarta tahun 2007-2008
- Berhasil membanguan kerjasama dengan SUDIN Kebudayaan DKI Jakarta, sehingga nasyid dapat disejajarkan dengan Marawis dan Qosidah yg sudah puluhan tahun berdiri, dengan dilahirkannya program “Festival Nasyid Marawis dan Qosidah” dari tahun sejak tahun 2007 sd sekarang
- ANN mampu bekerjsama dengan instansi2 penting pemerintah seperti “Depag, Kemenbudpar, DPRD Jakarta, dll adalah atas jasa beliau
- Belaiu mendapatkan penghargaan dari SUDIN Kebudayaan Jaksel sebagai “Pembina Nasyid” tahun 2011
Dan masih banyak lagi jasa2 beliau di dunia nasyid, sampai usia lanjut dan kondisi fisik yg sudh payah, namun beliau masih sempat menghadiri event2 ann dki, rakernas ann pusat daan kegiatan2 lain.. walau harus didampingi secara ketat oleh istri beliau ..
Sekarang beliau sedang koma di ICU RSCM, mohon doa’a rekan2 agar Allah SWT memberikan kesembukan dan kesehatan seperti semula. Dan kembali mengawal nasyid Indonesia..
Apa yang terpenting dalam hidup ini selain keikhlasan ? Ingatlah bahwa Allah menghendaki keikhlasan dari seorang hamba. Ikhlas adalah pemurnian. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” ( QS. Al Bayinah : 5 ). Maka bicara ikhlas, tentulah terawali dari sebuah ketulusan. Ada banyak dimensi dari ketulusan itu. Dalam Hadits Arba’in ke 7, yang diriwayatkan Oleh Imam Bukhari dan Muslim, dengan sanad yang bersumber dari Abu Ruqoyah at tamim Ad Dar; Rasulullah bersabda “ Agama itu nashiha (t)” ingat nashiha(t) dalam bahasa arab tidak sama dengan nasehat dalam bahasa indonesia. Nashiha(t) bermakna ketulusan. Sedang dimensinya, tersebutkan dalam hadits adalah kepada Allah, Kepada Kitab-kitabNya, Kepada RasulNya, kepada Pemimpin ( imam) dan ummatnya. Imam An Nawawi, dalam syarah hadits arbain nya menjelaskan, bhawa yang dimaksud Nashiha(t) kepada Allah ialah memurnikan penghambaan dan ketaatan kepadaNya, Kepada kitab Allah ialah mengimaninya, membacanya, mentadaburinya; kepada Rasul Allah adalah mengikuti apa yang diperintahkan, mentaatinya, menjauhi laranganya, menghidupkan sunnahnya; kepada pemimpin adalah mengikuti dan taat kepadanya selama tidak ada maksiat, memberikan masukan dengan adil.
Semangat yang dibangun dari nashiha(t) tersebut adalah semangat ketulusan. Dan ketulusan hanya akan lahir dari jiwa-jiwa nan tersemai bibit ikhlas. Murni.Tidak tercampuri oleh anasir-anasir buruk. Tidak mungkin bisamemberikan ketulusan menjadi hamba Allah, bila hati masih ada setitik nila kesyirikan meski dalam sebentuk riya’ Atau salah niat. Begitu pula dengan ketulusan pada dimensi yang lain. Pra syarat utamanya adalah ikhlas. murni. Maka tidak salah bila hadits arbain yang pertama berbunyi ” sungguh amal iu bergantung pada niatnya“. Penting ny menjaga niat, agar sentiasa ikhlas , seorang yang ikhlas; amalanya selalu sama entah terlihat ataupun tersembunyi, banyak orang atau sedikit oarng yang menyaksikan, seorang yang ikhlas; tidak pernah bergantung pada bagaimana orang menilai dirinya, seorang yang ikhlas; tidak mempermasalahkan perlakuan orang terhadap dirinya. karena semua amal pasti dibalas sesuai dengan kadar kepayahannya, ajruki ala qodri nashobik. Pahala itu sebanding dengan kadar kepayahan mencapainya. Dan tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula, hal jazaa’ ul ihsan illal ihsan.
Mari kita belajar dari Imam Malik. Seorang ulama nan masyhur dari kuffah. Setelah terbitnya kitab al muwatha’, kitab karangan imam malik nan masyhur itu. karena kepopuleran kitab ini, bermunculanlah para plagiat-plagiat, yang menjiplak karya beliau. hal tersebut membuat para muridnya meradang geram. Diadukanlah perkara tersebut pada sang guru, imam malik. ” Wahai gurunda, banyak sekali orang yang yang mengarang kitab dengan nama al muwatha’ seperti milik Anda. Bagaimana ini ?” dengan arifnya, sang guru menjawab “iya benar. saya mengetahuinya. Namun Hanya kitab al muwatha’ yang ditulis dengan keikhlasan saja yang akan bertahan. Sementara itu, yakinlah sisanya akan hilang” ya, karya yang ikhlas adalah karya yang lahir dari hati terdalam. Dan karya yang lahir dari hati tidak akan terlahir kecuali dengan niatan suci. Dana niatan suci hanya bisa lahir dari hati yang hanya mengharap kepada Allah, bukan yang lain. Dan karya yang seperti inilah yang akan lebih lama bertahan dan merasuk hati manusia. Seperti yang diungkapkan oleh Hasan Al Bashri ” Ma kharaja minal qalbi; mahaluhul qulub. Wa ma kharaja minal lisaan; mahaluhul adzaan- apa yang dikeluarkan dari hati akan bertempat di hati dan yang di keluarkan dari lisan hanya sampai di pendengaran”